Salah satu media yang dapat dipakai manusia untuk memuliakan diri adalah dunia enter- & info-tainment. Melalui dunia ini, setan menjanjikan “kepuasan lahir batin” untuk mengisi kekosongan hati manusia. Sehingga film dan infotainment menggantikan Tuhan sebagai pusat hidup, sebagai sumber penghiburan, dimana iman, pengharapan dan kasih manusia harus tertuju.
Namun ternyata setan menuntut bayaran yang mahal di dalam tipuannya ini. Mereka yang terjebak, akhirnya menjadi selalu membutuhkan film dan infotainment untuk memuaskan kekosongan hati mereka. Akhirnya, mereka tidak lagi menjadi “raja”, tetapi menjadi budak dari ilah-ilah yang bernama film dan infotainment dan kawan-kawannya itu.
Bagaimana Kesesatan Melalui Film Dapat Bekerja?
Film adalah “lakon/cerita/gambar hidup”. Melalui efek “hidup” ini kita dibawa untuk mengalami suatu petualangan di dalam pseudo-reality atau realitas yang semu, sehingga kita lupa akan keberadaan diri kita yang sebenarnya. Melalui keterlibatan yang demikian kita belajar dengan mengalami suatu pengalaman akan image dan konsep. Konsep dan image itu mempengaruhi alam sadar maupun alam tidak sadar kita.
Film dibuat oleh manusia berdasarkan ‘worldview’nya (kepercayaan-kepercayaan, konsep-konsep, pola-pola pikir, ide-ide). Waktu kita menonton suatu film-infotainment, secara tidak sadar kita menerima konsep-konsep ideologi si pembuat film itu, yang mungkin tidak alkitabiah. Melalui film konsep-konsep ideologi tersebut disampaikan kepada kita melalui simbol-simbol (yang berupa apa saja, apakah slogan, adegan, gaya busana, bentuk rambut, gaya tubuh, ucapan, dll.) yang dirangkai sedemikian rupa membentuk suatu plot tertentu.
Penyampaian simbol tersebut menghidupkan suatu “image” bagi kita dan disampaikan dengan cara yang kreatif dan berulang-ulang. Simbol-simbol dan plot-plot tersebut akan menciptakan suatu image di dalam pikiran kita Melalui image-image, yang dibentuk oleh rangkaian simbol-simbol itu kita menerima pengajaran dari suatu film, termasuk konsep-konsep yang terkandung di dalamnya. Melalui cara yang demikian, kita lebih mudah menerimanya.
Bentuk-Bentuk Kesesatan:
<object width=”425″ height=”355″><param name=”movie” value=”http://www.youtube.com/v/gFW_vM6cV8I&hl=en”></param><param name=”wmode” value=”transparent”></param><embed src=”http://www.youtube.com/v/gFW_vM6cV8I&hl=en” type=”application/x-shockwave-flash” wmode=”transparent” width=”425″ height=”355″></embed></object>
1. Post-modernism and New Age Movement.
Paham Postmodernisme dan New Age Movement ini merupakan paham yang berada dibalik setiap fenomena kebudayaan yang ada sekarang. Paham ini mewarnai seluruh worldview, norma-norma, dan fenomena-fenomena kebudayaan yang ada, termasuk dalam dunia film dan infotainment. Pandangan Post-modernisme bercirikan partikularisme, relativisme dan pluralisme yang termanifestasi dalam semangat konsumerisme. Sedangkan inti dari New Age Movement adalah mistik Timur, terutama Hinduisme, yang bercirikan monisme, panteisme, dan mistiksisme.
2. Illusion or Pseudo-reality.
Sekilas film adalah sebuah cerita utuh yang ditampilkan oleh para aktor dan aktris. Kenyataannya, film adalah rekayasa teknologi dengan bantuan ahli-ahli spesialis dari berbagai bidang yang jarang kelihatan dalam film.
3. Autonomous Spirit.
Kesatuan film sebenarnya adalah terletak pada teknik pembuatannya dan, maka sutradara dan editor mempunyai kebebasan untuk mengatur dan memanipulasi cerita dengan berbagai cara. Sehingga sutradaralah yang menjadi “pencipta” kebenaran dan kenyataan.
4. The Other Philosophies or Ideologies and the Spirit of Carnaval.
Di atas kita sudah melihat bagaimana dibalik setiap film, ada ideologi tertentu yang sedang disodorkan. Dan di era Postmodern ini, ideologi yang disodorkan demikian banyak dan tumpang tindih. Dimana penonton dipersilahkan mau memilih menonton yang mana.
5. Reality is Stranger than It Used to Be.
Film adalah suatu dunia yang dibangun sendiri oleh manusia. Namun sekalipun sutradara berusaha membuatnya seperti dunia aslinya, tetap hal itu bukan realita. Karena realita yang dibentuk bagaimanapun berbeda dari realita yang sesungguhnya. Dan begitu film habis kita kembali ke realita yang sesungguhnya. Namun akibat dari realita semu yang dibuat film ini, banyak orang yang tidak lagi dapat melihat mana yang realita mana yang bukan.
6. The Other gods and Occultism.
Dalam beberapa film kadang seringkali diajarkan konsep allah-allah yang berbeda dengan Allah Alkitab dan juga praktek okultisme, seperti meditasi, sihir, tenung, ramal-meramal, dll. (Band. Ul. 18:10-12)
7. Relativism.
Jika film modern berusaha untuk menyampaikan suatu prinsip universal, misalnya: “kebenaran pasti menang” maka film postmodern tidak berbicara tentang prinsip universal, tetapi hal yang partikular, misalnya: “kebenaran tidak selalu menang, bisa saja menang.” Bahkan dalam beberapa film tertentu, penonton disuruh menyimpulkan sendiri mana yang menang dan mana yang kalah, atau bahkan penonton disuruh pula menentukan mana yang baik dan mana yang jahat.
8. Monism and Dualism.
Beberapa film tertentu mengajarkan bahwa kebaikan dan kejahatan pada hakekatnya adalah satu. Segala sesuatu pada hakekatnya adalah satu, perbedaan yang ada adalah fenomena belaka. Tidak ada beda antara benar dan jahat, antara pencipta dan ciptaan, antara manusia dengan alam, teknik dan alam, dll. Perbedaan hanyalah fenomena yang menghasilkan cerita kehidupan.
9. The Misused of Imagination.
Imajinasi adalah sesuatu potensi yang penting dalam kehidupan manusia. Imajinasi adalah wadah dialog antara realita objektif dan diri manusia. Melalui beberapa film tertentu imajinasi kita diarahkan ke hal-hal yang salah dan tidak sesuai dengan Firman Tuhan.
10. Dangerous Suplement.
Seringkali film mengangkat suatu bagian minor tertentu dari seluruh realita yang ada. Lalu hal yang demikian dipertontonkan secara terus menerus, sehingga hal itu menjadi “mayor”, seolah-olah hal itu adalah seluruh realita. Dengan demikian orang diajak untuk mengkotak-kotakkan hidup dan menghancurkan prioritas hidup yang sebenarnya.
11. Violence and other immoral attitudes.
Dapat dikatakan kebanyakan film-film sekarang menyodorkan kekerasan, free sex, perilaku-perilaku sex yang tidak beres, dan hal-hal yang berdosa. Padahal jelas Alkitab mengajarkan kasih, kesucian, kebaikan, dan hal-hal yang dikenan Tuhan.
12. New Ethicies or new moralities.
Melalui dunia film kita melihat bagaimana pergeseran-pergeseran nilai-nilai moral yang telah ada. Hal-hal yang berdosa dikaburkan keseriusannya, kesucian dianggap kemunafikkan. Secara konsensus umum, kemunafikan dijadikan topeng dari manusia yang berdosa supaya mereka kelihatan baik.
Dampak:
1. Kekacauan konsep mengenai realita, mengenai kasih, kebenaran, kesucian, dan kebaikan.
2. Tidak bergantung pada Allah, melainkan bergantung pada diri atau setan. Tidak mencari penghiburan yang sejati kepada Tuhan, melainkan mencarinya kepada setan dan dunia.
3. Kegilaan dan kriminalitas, tidak jarang orang bisa berlaku aneh dan ekstrem, bahkan sampai bunuh diri atau membunuh dan melakukan tindakan kriminal yang lain.
4. Dalam dunia ekonomi, film dan infotainment keduanya adalah iklan yang menawarkan suatu produk. Dan tidak jarang produk yang sebenarnya tidak sebaik yang ditawarkan melalui iklan tersebut.
Menebus Film dan Infotainment
Pertama, di balik semua tantangan dunia ini terdapat iblis yang berusaha menghancurkan manusia. Untuk menghadapi tantangan ini, kita tidak dapat berjuang secara perseorangan, melainkan harus berjuang bersama dalam komunitas orang percaya.
1. Tanggung jawab para pemuka agama adalah mengajarkan konsep-konsep Alkitab dan membangun worldview agama yang benar kepada semua jemaat, bukan hanya pesan-pesan moral saja.
2. Tanggung jawab Keluarga adalah mengembangkan suatu lingkungan yang kondusif dimana iman dan kerohanian yang sehat dapat bertumbuh di dalamnya. Dengan aktif mengajar dan mendidik anggota keluarga di dalam kasih dan kebenaran yang berdasarkan Firman Tuhan.
3. Tanggung jawab Individu adalah belajar dan bertumbuh dalam kerohanian sehingga makin serupa dengan Kristus dalam aspek pengetahuan, karakter, dan tindakan.
Kedua, Jika kita telah melihat pula betapa besar kuasa suatu film dan infotainment, maka kitapun dapat menggunakannya untuk tujuan yang baik dan bahkan dapat membawa misi dan ajaran agama di dalamnya.
Berita terkait:









